Mengapa Hidup Kita Gelisah

gelisah Pernahkah merasakan kehidupan yang tengah dijalanimenjadi sesuatu yang membuat gelisah dan tidak tenang ? Atau terasa kalau kehidupan ini penuh degan beban masalah yang susah dicari solusinya? Atau merasakan bahwa Anda sebagai satu-satunya orang yang paling menderita saat itu dengan setumpuk beban hidup?

Kalau bicara masalah dan beban hidup, siapa manusia hidup yang tidak mempunyai kedua hal tersebut? Bahkan setiap hal yang didekat kita, setiap hal yangn kita lihat bisa menjadi masalah dan beban yang mengganggu. Coba rasakan saat pikiran sedang suntuk, mendengar suara cicak atau kucing mengeong mungkin bisa menjadi masalah yang sangat menganggu pendengaran kita. Padahal jika pikiran sedang tenang, jangankan suara cicak dan kucing, suara petir sekalipun tidak akan menganggu pendengaran dan bahkan bisa tertidur lelap.

Lalu mengapa manusia hidup bisa mengalami kegelisahan ? Berikut analisanya :

1. Banyak Melakukan Dosa

Manusia yang banyak melakukan dosa hatinya akan tertutup. Laksana cermin yang kotor oleh debu maka menjadi susah meneruskan cahaya. Padahal ketenangan letaknya di hati. Jika hatinya tertutup oleh lapisan dosa maka ketenangan tidak akan bisa meresap ke dalam hati. Apalagi ditambah dengan kemarahan Tuhan terhadap manusia pendosa, maka lengkaplah kegelisahan hidupnya.

2. Banyak Berbuat Jahat kepada Orang Lain

Hal ini akan menimbulkan permusuhan dan dendam sehingga kemanapun manusia yang banyak berbuat jahat ini akan merasa terancam keselamatannya. Belum lagi ternyata doa orang terdzolimi/terjahati mudah dikabulkan Tuhan sehingga semakin tidak tenanglah kehidupannya.

3. Iri dan Pendengki 

Manusia yang iri dan pendengki tidak senang jika melihat orang lain dapat kesenangan, dan senang jika orang lain susah. Dirinya akan berusaha menyamai apa yang telah dicapai orang lain dengan segala cara tidak memperdulikan aturan dan norma yang ada. Sehingga tidak ada ketenangan dalam mencapai tujuannya, semua serba ingin instan, semua serba ingin cepat dan terburu-buru.

4. Terlalu Cinta Dunia

Kehidupan dunia ini hanya bersifat sementara, umur manusia yang tertua saat ini tidak lebih dari 120 tahun. Rata-rata manusia meninggal pada usia 60-70 tahun. Setelah meninggal, manusia akan masuk kealam keabadian (akhirat) yang tidak ada lagi ukuran ruang dan waktu. Kalau sudah memahami perbandingan lama tinggal di dunia dan di akhirat tersebut mengapa manusia begitu erat memegang urusan dunia dan tidak memikirkan bekal untuk di akhirat? Jika manusia terlalu erat memegang dunia fana (sementara) ini maka dirinya akan banyak diliputi ketakutan-ketakutan, takut akan kehilangan harta, takut kehilangan jabatan, takut kematian dll sehingga tidak ada lagi ketenangan hidup.

5. Sedikit Mengingat Allah 

Siapa yang pertama kali kita sebut  saat mengalami masalah atau kesulitan hidup? Keluhan kah? Celingak-celinguk mencari bantuan orang lain? Mengapa bukan Allah yang pertama kali kita sebut dan mintakan pertolongannya. Sebab Allah lah yang menciptakan masalah maka Dia juga yang punya solusinya. Sayangnya karena diwaktu tidak ada masalah, manusia sedikit mengingat Allah maka saat mendapat masalah manusia pun akan dengan mudah melupakan Allah dan Allah pun akan melupakan manusia . Padahal semakin manusia tergantung kepada manusia lain maka hidupnya akan semakin tidak tenang karena manusia lain pun belum tentu sedang dalam keadaan tenang.

Agar kehidupan kita tenang, tidak gelisah dan bisa bahagia maka introspeksi dirilah terhadap hal-hal berikut, setelah itu segeralah mengambil tindakan positifnya :

  1. Berapa kali dalam sehari kita bertaubat atas dosa dan kesalahan kita terhadap Tuhan (beristighfar) ?
  2. Apakah kita sering berbuat kesalahan kepada orang lain? Dan sudahkan meminta maaf ? Lalu berapa banyak kebaikkan yang kita perbuat untuk orang lain ?
  3. Sudahkah kita menjadikan keberhasilan dan kebahagiaan orang lain sebagai motivasi kita agar lebih baik dengan cara yang baik dan bukan dengan cara yang melanggar aturan dan norma ?
  4. Seberapa banyak bekal untuk kehidupan akhirat kita persiapkan ? Sudahkan ibadah wajib kita tunaikan ? Dan berapa banyak ibadah tambahan (sunnah) yang sudah dikerjakan ?
  5. Apakah kita sudah menyebut nama Allah dalam berbagai situasi dan kondisi ? Saat senang dan saat mengalami kesusahan ? 

Semoga artikel di atas dapat mengingatkan diri penulis sendiri dan bermanfaat bagi para pembacanya.

Updated: October 16, 2008 — 9:11 am