SKB Tentang Pengalihan Hari Kerja, Rakyat Lagi Yang Jadi Korban

PLN “Surat keputusan bersama (SKB) lima menteri untuk pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan waktu kerja pada sektor industri di Jawa-Bali akhirnya ditandatangani di Sekretariat Wakil Presiden (Wapres) Jakarta hari Senin tanggal 14 Juli 2008. SKB yang mulai diberlakukan pada 21 Juli 2008 itu ditandatangani Menteri Dalam Negeri (Mardiyanto), Menteri Energi Sumber Daya Mineral (Purnomo Yusgiantoro), Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Erman Suparno), Menteri Negara BUMN (Sofyan Djalil), dan Menteri Perindustrian (Fahmi Idris).

Melalui SKB tersebut, sektor industri diminta memindahkan sebagian hari kerja ke hari libur (Sabtu dan Minggu) selama dua hari setiap bulannya. Ini dimaksudkan untuk mengalihkan beban puncak listrik yang selama ini terjadi pada hari kerja biasa, sementara pada hari libur Sabtu dan Minggu terjadi penurunan penggunaan listrik. Pengalihan dimaksudkan agar tidak terjadi pemadaman listrik secara bergilir. Ketentuan teknis pengalihan hari kerja industri sepenuhnya berada di tangan PLN dan pembagian wilayah pengalihan hari kerja industri di Jawa dan Bali ke hari Sabtu dan Minggu itu antara lain Banten-Jawa Barat terhimpun dalam kluster I, Jawa Tengah dalam kluster II, Jawa Timur dalam kluster III, dan Bali-Madura dalam kluster IV. Batam tidak termasuk dalam kelompok kluster”……sumber : www.indonesia.go.id

Sedih saya membaca berita di atas. Bagaimana tidak sedih, para buruh pabrik akan dipaksa masuk kerja pada hari Sabtu dan Minggu tanpa mendapat upah lembur. SADIS !!!

Saya dulu pernah merasakan sering dipaksa masuk kerja di hari Sabtu dan Minggu dengan alasan Hari Senin desain konstruksi akan di asistensikan ke Owner Proyek (sewaktu saya masih bekerja di konsultan perencana). Kalau hal itu terjadi, malas sekali rasanya, walaupun saat itu mendapat upah lembur dan pada waktu itu saya masih single.  Tapi tetap saja saya butuh istirahat, saya butuh relax setelah bekerja sepanjang hari dalam 1 minggu itu.

Pemerintah rupanya tidak memperdulikan nasib para buruh dan keluarganya. Jika hari Sabtu dan Minggu mereka dipaksa masuk, tanpa uang lembur pula, bagaimana nasib anak-anak mereka ? Apalagi kalau Bapak dan Ibu adalah pekerja juga. Bisa jadi anak-anak akan kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dan bisa diprediksi masa depan mereka yang suram. Anak-anak ini akan tumbuh liar, akibatnya di masa depan akan semakin bertambah banyak kriminalitas. Apakah pemerintah memikirkan kemungkinan ini ?

Alasan pemberlakuan SKB tersebut adalah, ketidakberdayaan PLN untuk mengatur pasokan listrik…..? PLN yang merupakan satu-satunya perusahaan yang memonopoli listrik di Indonesia sedemikian tidakberdayannya mengatur aliran listrik. Dengan alasan kekurangan pasokan batubara, kerusakan pembangkit, kekeringan, dan segala macam alasan yang ujung-ujungnya mengatakan PLN telah merugi. Busyeet……Apa PLN terlalu banyak koruptor sehingga kebocoran dana lebih parah dari kebocoran aliran listrik ?

Please…..jangan korbankan rakyat terus….coba sekali-kali korbankan juga para pejabat, terutama para pejabat dan pengusaha jahat.

Updated: July 16, 2008 — 8:19 am

5 Comments

  1. Begitulah mas nasib karyawan kecil, selalu ditindas, selalu jadi prajurit terdepan ketika berperang tapi tidak pernah mendapatkan penghargaan yg layak atas jasa-jasanya.
    Bukan salah PLN sepenuhnya memang atas keamburadulan perlistrikan di Indonesia, tapi sistem yang lemah, sistem yang dibuat oleh para wakil rakyat dan eksekutif mengakibatkan kebobrokan PLN semakin akut. Entah setelah ini kejutan apalagi yang akan diberikan oleh pemerintah terhadap rakyatnya 🙂

  2. Mas Jafar,

    Jadi menurut Anda, sebagai rakyat kecil kita harus bertindak apa agar kedzoliman pemerintah dan para penguasa tidak berlanjut terus terhadap kita ?

  3. Saya semakin “ngeri” menghadapi pemilu yg akan datang. Belum lagi kampanye dimulai, suasana negara ini sudah begitu “panas”. Intrik-intrik politik sudah begitu jelas dilemparkan.

    Saya tidak habis pikir, mengapa para politisi itu begitu “tega” mengorbankan rakyat untuk memperkaya diri mereka? Apakah kita tidak usah ikut memilih mereka saja di Pemilu yang akan datang? Entahlah…

    Salam kenal dan salam prihatin…

  4. Jadi menurut Anda, sebagai rakyat kecil kita harus bertindak apa agar kedzoliman pemerintah dan para penguasa tidak berlanjut terus terhadap kita ?

    Agak berat juga nih pertanyaannya. Kalau saya pribadi berpandangan fondasi negara dan bangsa Indonesia sudah sangat rapuh sehingga meskipun di tahun depan terpilih presiden yang dirasakan cukup kredibel namun tetap akan sangat sulit memperbaiki negara ini. Ekstremnya saya berpandangan agar diputus saja satu rantai generasi.

    Peran kita sebagai rakyat kecil saat ini mungkin baru hanya sebatas sebagai obyek penderita sang penguasa. Dan memang hanya bisa berdoa dan bersabar saja.

    Tapi satu hal yang perlu dicamkan adalah ketika kita ingin memutuskan satu rangkaian generasi maka itu bisa dilakukan dari sekarang. Kita didik putera-puteri kita dengan benar, bina akhlak dan kepribadian mereka sehingga kita bisa berharap banyak kepada mereka nantinya dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

  5. Keputusan yang menjajah! Seharusnya daripada dialihkan kehari sabtu/minggu lebih baik dibikin hari libur nasional, dengan demikian rakyat tidak tambah sengsara dan listrik juga bisa dihemat. Memang produksi menurun tapi itu konsekuensinya dari infrastruktur (PLN) yang amburadul. Jangan buruh yang jadi konsekuensinya.

Comments are closed.