Memaknai Sebuah Pernikahan

Technorati Tags: ,

pernikahan Selain sebagai sarana menyalurkan fitrah hidup atas keinginan seksual dan keinginan mempertahankan keturunan, menikah ternyata mempunyai makna yang demikian luas dan mendalam bagi kehidupan manusia, terutama kehidupan menusia yang menjalaninya. Menikah bisa merubah kehidupan manusia secara drastis jika dibandingkan kehidupan sebelum menikah. Perubahan itu bisa berupa perubahan sifat, pola pikir dan kebiasaan. Perubahan itu juga bisa kearah yang lebih baik atau lebih buruk. Betapa tidak, perpaduan dua insan manusia yang berbeda, baik fisik maupun psikis, akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang baru yang harus dijalani keduanya. Walaupun ada yang mengalami masa pacaran, dalam waktu yang lama, sebelum menikah, tapi masa itu tidak bisa dijadikan pedoman untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Bahkan masa pacaran itu bisa jadi penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan, sebab masing-masing insan pada masa pacaran akan mencoba saling memberikan gambaran yang sebaik-baiknya terhadap pasangannya. Sehingga kelemahan dan sifat asli akan ditutup-tutupi sedemikian rupa dengan berbagai macam topeng kepalsuan.

Saat kedua insan manusia menikah, di awal-awal pernikahan adalah saat-saat paling indah, dan lambat laun bisa jadi menjadi saat-saat paling buruk dalam sejarah hidupnya jika kedua insan yang menikah tadi tidak bisa mensikapi perbedaan dengan bijaksana dan tidak bisa memaknai pernikahan dengan hati dan pikiran yang jenih.

Lalu ada makna apa dalam pernikahan itu ?

1. Ibadah

Menikah adalah perintah Allah dan ajaran para Nabi dan Rosul, sehingga melaksanakannya berarti bentuk suatu ketundukkan dan kepatuhan kepada Allah yang bisa mendatangkan pahala jika niatnya ikhlas. Menikah juga memperluas kesempatan untuk beribadah dan mendapatkan pahala yang lebih banyak, karena ketika dua insan menikah maka banyak hal yang kelihatan sepele tetapi ternyata bernilai ibadah. Dan pahalanya pun dilipat gandakan dibandingkan saat seblum menikah. Misalnya hubungan seksual yang dilakukan setelah menikah menjadi bernilai ibadah, tapi jika dilakukan sebelum menikah akan menjadi dosa besar yang hukumannya sangat berat.

2. Sabar

Karena menikah itu mempertemukan dua insan yang berbeda jenis, maka akan banyak pula perbedaan perbedaan yang dijumpai pada diri keduanya. Jika perbedaan itu disikapi dengan egoisme pribadi maka yang akan muncul berikutnya adalah perpecahan. Diperlukan kesabaran yang tak terbatas untuk menghindari perpecahan ini. Kesabarab untuk menerima kenyataan bahwa pasangan kita memiliki kekurangan-kekurangan dan kesabaran untuk tidak bersikap egois dan mempertahankan diri atas sifat dan kebiasaan masing-masing.

3. Saling Membantu

Ketika pernikahan dilaksanakan maka akan melahirkan hak dan kewajiban baru untuk masing-masing insan. Misalnya, suami berkewajiban memberi nafkah untuk anak dan istrinya. Sedangkan istri berkewajiban merawat dan membimbing anak-anak. Apakah hak dan kewajiban suami dan istri ini mempunyai batas yang tegas ? Secara teoritis, iya. Tetapi secara prakteknya tidak sedemikian kaku seperti teori. Masing-masing harus saling membantu jika pasangannya mengalami kesulitan dalam melaksanakan tuga dan kewajibannya. Misalnya, saat suami berusaha memenuhi kebutuhan nafkah anak istrinya belum mampu terpenuhi semua, terutama kebutuhan pokok, maka istri sebaiknya membantu suaminya memenuhi kebutuhan itu, atau minimal tidak menambahi beban pengeluaran dengan menuntut pemenuhan kebutuhan yang bersifat tambahan/tersier.

4. Saling Memahami

Kalau tolong menolong diatas berkaitan dengan perbuatan fisik maka saling memahami berkaitan dengan perasaan. Bahasa lainnya saling berempati. Yaitu seolah-olah ikut merasakan apa yang pasangan kita rasakan. Misalnya, saat istri mengalami menstruasi biasanya menjadi sensitif dan tingkat emosionalnya meningkat, maka sebagai suami harus bisa memahami keadaan istri tersebut dengan tidak ikut-ikutan emosional saat istri sedang uring-uringan. Contoh lain, istri juga harus memahami keadaan cape suami saat baru pulang kerja maka istri harus menyambut dengan keadaan yang menyenangkan bukan sebaliknya.

Kesalahan pemaknaan terhadap pernikahan akan mengakibatkan usia pernikahan tidak berlangsung lama. Ketika pernikahan hanya dimaknai sebagai penyaluran hasrat seks semata maka kebosanan akan segera menghinggapi pasangan ini, sebab semakin bertambah usia kemampuan fisik akan semakin turun dan rupa fisik pun semakin memudar. Di awal pernikahan cinta dan nafsu menjadi landasannya, dan semakin bertambah umur masing-masing pasangan dan umur pernikahan maka seharusnya keikhlasan dan kasih sayang yang menjadi landasannya karena cinta dan nafsu tumbuh berlandaskan keindahan fisik, sedangakn kasih sayang tumbuh berlandaskan kemuliaan hati dan jiwa.

Kesalahan pemaknaan dapat terjadi sebelum pernikahan dilangsungkan sehingga mengakibatkan pernikahan menjadi tertunda atau bahkan tidak terjadi pernikahan. Contoh kasus, ketika seseorang hanya memaknai pernikahan sebagai pelampiasan hasrat seksual saja maka orang bisa saja berpikir kenapa harus menikah kalau cuma untuk melampiaskan hasrat seks, dijalanan juga banyak di jajakan ‘alat’ pemuas hasrat.

Salah satu kesalahan pemaknaan yang juga sering terjadi adalah menganggap pernikahan itu selalu penuh kesenangan dan keindahan saja sehingga saat mengalami cobaan setelah menikah sekian lama menjadi shock dan tertekan. Padahal kalau kita mau melihat sejarah para nabi, seperti yang terjadi pada Nabi Nuh dan Nabi Luth yang mendapat cobaan yang besar saat istri dan anaknya menjadi penentang utama dalam menunaikan tugas kerosulan dari Allah. Apakah Nabi Nuh dan Luth salah memilih calon istri sebelum menikah ? Tidak, istri mereka Allah lah yang memilihkan. Itu semua semata-mata memberikan pelajaran bagi kita bahwa pernikahan itu juga bisa penuh dengan cobaan sebanding dengan tingkat keimanan seseorang.

Kesimpulannya, penting sekali untuk memberi makna pada sebuah pernikahan untuk orang yang akan menikah atau telah menikah agar pernikahan bisa bertahan samapai ajal menjemput. Kesalahan pemberian makna akan berakibat bubarnya pernikahan dalam waktu yang singkat.

Updated: April 29, 2008 — 8:25 am

4 Comments

  1. Masih pengen nikah lagi yaa….

  2. Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com
    http://18-thn.infogue.com/memaknai_sebuah_pernikahan

  3. Wah, mbak maya mas mamo mau nikah lagi tuch…Coba diawasi ya mba…He..he…bercanda. Boleh lah artikelnya. ditambahi lagi buat nashrul fikrah…..Ok kakak !!!
    From solo your sist

  4. Ok!!!
    Mudah-mudahan saya bisa menikah sebelum dipanggil yang maha kuasa..
    Amin…

Comments are closed.