Bentuk Hubungan Yang Kekal

Technorati Tags: ,,,

komunikasiSaat ini marak orang mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah pribadi dan sosial. Masalah pribadi misalnya, bagaimana mengembangkan diri, cara mendapatkan kekayaan, cara meniti karir dengan progresif dll. Sedangkan masalah sosial cara berkomunikasi dengan orang lain, cara menjual, bagaimana berbicara di depan umum, cara mempengaruhi orang lain dll. Bukti dari semua contoh di atas adalah begitu banyaknya seminar, pelatihan workshop dan acara di media massa yang membahas masalah pribadi dan sosial tersebut. Bahkan orang rela mengeluarkan biaya sampai jutaan rupiah untuk mengikutinya. Apa hal ini salah ? Tidak, sama sekali tidak salah saat kita belajar mengenai masalah pribadi dan sosial. Hanya saja kita perlu melihat sisi lain yang sering diabaikkan orang.

Hubungan yang terjadi pada permasalahan-permasalahn pribadi dan sosial adalah hubungan terhadap sesama manusia. Hubungan ini sifatnya sementara, paling lama hubungan itu akan berlangsung selama manusia hidup saja, berapa lama ? 10 tahun?, 50 tahun ? 100 tahun ? Ada batas waktunya. Sekarang mari kita lihat sis lain bentuk hubungan yang sering diabaikan manusia. Yaitu hubungan dengan Tuhan Allah. Seberapa kita merasa dekat dengan Sang Pencipta? Sudah sejauh mana hubungan yang terjadi antara kita dengan Dia ? Apa hanya sekedar hubungan formal ibadah saja, yaitu kita menyembah, melakuakn ibadah formal, setelah itu selesai, hanya sekedar gugur kewajiban. Misalnya seorang muslim, hanya sekedar sholat, puasa, zakat, naik haji, itu saja ? Lalu sejauh mana bentuk keterikatan hati kita dengan Sang Pencipta ? Kemana kita curhat saat kita butuh berbagi beban dan masalah ? Kemana kita meminta bantuan dan pertolongan untuk yang pertama kalinya saat kita mendapatkan kesulitan ? Seharusnya jawabannya kepada Allah. Hanya bersandar kepada Sang Pencipta, Sang Pemberi Pertolongan, manusia bisa hidup tenang, ikhlas dan sabar. Jika sandaran kita adalah sesama manusia, maka kita akan sering kecewa. Sebab umur manusia terbatas, hati manusia sering berubah, tidak ada yang konsisiten pada diri manusia. Kalau hari ini menjadi teman, sahabat atau keluarga yang kita cintai, bisa jadi besok menjadi musuh yang kita benci. Coba baca kisah keluarga Nabi Nuh, Nabi Luth dan Nabi Ibrahim. Keluarga mereka justru menjadi penentang pertama tugas kewajiban sebagai pembawa risalah, sebagai pembawa kebenaran dari Allah. Bahkan kemudian Allah memberikan azab dan siksaan atas pembangkangan yang mereka lakukan terhadap suami mereka para Nabi yang mulia tersebut yang secara langsung berarti menentang Allah juga. Kisah para Nabi itu membuktikan bahwa hubungan yang terjadi antara sesama manusia itu hanya bersifat sementara saja.

Sudah saatnya kita memberikan porsi yang seimbang dalam membina hubungan dengan Sang Pencipta tidak hanya terkonsentrasi terhadap pembinaan pribadi dan pembinaan hubungan sosial semata. Pembinaan, pelatihan, kajian terhadapa pembinaan hubungan antara manusia dengan Tuhannya relatif sangat murah, bahkan banyak yang gratis coba buka televisi Anda di pagi hari setelah subuh, ada kuliah subuh, di masjid-masjid banyak kultum, khotbah Jumat, kuliah dhuha dll. Bahkan banyak penceramah, ustadz yang mau berbagi ilmunya dengan gratis. Jadi tinggal kemauan kita saja untuk mendalami hubunga kita dengan Tuhan Kita.

Hubungan yang terjadi antara manusia dengan Tuhannya bersifat kekal dari segi waktu. Selain itu juga bentuk hubungan ini ternyata secara otomatis berpengaruh kepada masalah-masalah pribadi dan masalah-masalah sosial secara langsung maupun tidak langsung. Sebab saat manusia mempunyai hubungan yang baik dan dekat kepada Tuhannya maka seharusnya manusia juga akan mempunyai hubungan baik dengan sesamanya. Tidak ada peritah Tuhan yang menyuruh manusia untuk mndzolimi manusia lain, untuk menyakiti manusia lain bahkan Tuhan memerintahkan kita menjalin hubungan baik dengan sesama makhluk, tidak hanya kepada manusia saja. Kita harus menghormati tetangga, murah senyum, saling bantu, saling berempati. Bahkan kepada hewan dan tumbuhan kita juga dilarang oleh Tuhan untuk menyiksa dan mengganggunya. Silahkan baca kisah nabi Muhammad, ia digelari Al Amin ( yang dapat dipercaya) dan berlaku untuk siapapun, tidak hanya muslim tapi non muslim juga percaya kepada Nabi Muhammad.

Jadi saat manusia mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhannya maka seharusnya manusia secara otomatis mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya.

Updated: April 24, 2008 — 11:25 am