Ukuran Kebahagiaan

Technorati Tags: ,,

bahagia2 Kehidupan di dunia ini tidak pernah statis, ia selalu berubah. Allah terus mempergilirkan fase kehidupan. Seperti roda mobil yang bergerak di atas jalan, maka tidak ada sisi/bagian yang tetap, ia berubah posisi secara vertikal maupun horisontal (hal ini saya sebut hukum roda bergulir). Maka menjadi hal yang wajar, normal, alami ketika keadaan manusia juga mirip seperti roda mobil tersebut. Manusia akan mengalami saat menang/kalah, senang/susah, berhasil/gagal secara bergantian. Biasanya manusia hampir selalu merencanakan mendapatkan kemenangan/kesenangan/keberhasilan sedangkan kekalahan/kesusahan/kegagalan tidak pernah diharapkannya. Padahal betapapun manusia mencoba menghindar dari hal yang tidak diinginkan tersebut ia akan tetap merasakannya karena ‘hukum roda bergulir’ berlaku untuk kehidupan manusia di dunia fana ini. Lalu apa benang merah yang bisa ditarik dari pergiliran dua hal yang bertolak belakang (menang/kalah, senang/susah, sukses/gagal) tersebut ? Untuk menjawabnya kita harus tahu apa tujuan manusia hidup itu ? Menurut saya tujuan manusia hidup adalah untuk beribadah kepada Allah dan untuk mencari kebahagiaan. Mengapa beribadah kepada Allah ? Sebab hanya Dia yang bisa memberikan kebahagiaan dan bukan kehidupan dunia yang memberikan kebahagiaan. Bahagia itu adanya di hati dan hanya manusia yang bersangkutan yang mengetahuinya. Menurut Anda, apakah orang yang mempunyai harta yang berlimpah, istri yang cantik, mobil yang bagus itu hidup dalam kebahagiaan ? Belum tentu. Apakah karyawan yang gajinya tinggi juga identik dengan karyawan yang bahagia. Belum tentu juga. Dan begitu juga sebaliknya, apakah orang yang hidup pas-pasan, orang yang di mata kita kelihatan hidup menderita (dari segi harta) identik dengan ketidakbahagiaan ? Jawabannya belum tentu juga.

Jadi benang merah yang bisa ditarik dari menang/kalah, senang/susah, berhasil/gagal adalah bahwa dua hal yang bertentangan itu bisa menjadi sarana menuju kebahagiaan atau sarana menuju ketidakbahagiaan hidup. Sama saja tingkatannya. Sebab Allah lah yang memberikan perasaan bahagia kepada hati kita dengan menggunakan sarana apa saja. Bisa menggunakan sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Intinya adalah kebahagiaan hidup bisa diraih jika kita dekat dengan pencipta kebahagiaan yaitu Tuhan kita Allah.

Contoh peristiwa dalam sejarah mengenai hal ini adalah peristiwa dipenjaranya Nabi Yusuf as karena difitnah telah berbuat tak senonoh terhadap istri perdana menteri Al ‘Aziz di negaranya. Saat menghadapi fitnah ini Nabi Yusuf berdoa kepada Allah : “Wahai Tuhanku. Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka (ajakan untuk berbuat tak senonoh)….” (QS Yusuf 33). Ternyata bagi Nabi Yusuf, penjara lebih menyenangkan dari pada hidup bebas di luar tapi penuh godaan nafsu dan fitnah.

Dari kasus Nabi Yusuf ternyata membuktikan bahwa tidak selalu penjara itu identik dengan kesengsaraan bahkan bagi Nabi Yusuf penjara lebih menyenangkan, lebih membahagiaan dirinya. Contoh lain yang mirip adalah, peristiwa saat ulama besar Buya Hamka dipenjara, ternyata justru beliau bisa menghasilkan karya yang fenomenal sampai sekarang yaitu Tafsir Al Azhar.

Jadi, menang/kalah, susah/senang, berhasil/gagal adalah dua hal yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan hidup saat diri kita dekat dengan Sang Pencipta kebahagiaan.

Updated: April 21, 2008 — 8:50 am