Religius dan Moralitas, Yang Harus Didahulukan

moralitas Beberapa hari terakhir ini acara infotainment televisi gencar memberitakan tentang penyanyi dangdut kontroversial yang terkenal dengan joged seronoknya. Joged yang lebih mirip tarian striptease pembangkit syahwat, daripada joged yang bernuansa seni melayu. Kabar kontroversial semakin tajam saat penyanyi dangdut ini dicekal (tidak boleh tampil) oleh Walikota Tangerang. Senada dengan pencekalan itu, seorang penggubah lagu dangdut, Fazaldat, tidak memperbolehkan lagu-lagu gubahannya didendangkan penyanyi itu selama dirinya masih melakukan joged seronoknya.

Peristiwa kontroversi joged seronok ini bukan yang pertama, beberapa waktu lalu joged seronok penyanyi dangdut juga mendapat tentangan dari sesama penyanyi dangdut. Adalah Roma Irama yang menentang sekaligus melarang lagu-lagunya dinyanyikan oleh penyanyi dangdut yang melakukan joged seronok.

Penentangan terhadap porno aksi dan pornografi seperti di atas akan terus berulang selama masih ada yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius dan moralitas. Sayangnya saat ini kedua nilai itu (religius dan moralitas) mulai tidak diindahkan terutama pada kalangan muda. Moralitas mulai dihargai murah, ditukar dengan materi dan ketenaran, sehingga tidak ada lagi harga diri. Religius juga sering ditukar dengan kesenangan dunia yang fana ini, padahal dalam religi itu terdapat kebahagiaan abadi saat di akhirat nanti. Fakta begitu rendahnya nilai moralitas dan religius ini bisa dilihat pada dunia hiburan kita. Banyak pelaku dunia hiburan yang menggadaikan kemolekan tubuhnya demi uang dan ketenaran. Kelakuan bergonta-ganti pasangan dan selingkuh juga telah menjadi pokok berita infotainment.

Lalu mengapa nilia-nilai moralitas dan religius menjadi sedemian rendahnya saat ini ? Dan menjadi tanggungjawab siapa saja pendidikan mengenai kedua nilai itu ?

Faktor penyebab rendahnya nilai-nilai religi dan moral terutama pada generasi muda adalah :

1. Serangan bertubi-tubi budaya hedonisme dan materialistis dari dunia barat melalui media khususnya media elektronik. Lihat saja isi acara hiburan televisi dan dunia internet yang hampir tanpa aturan, memberika akses tak terbatas pada hal yang merusak moralitas pengguna dan penikmat televisi dan internet.

2. Dunia pendidikan Indonesia sangat pelit pelajaran tentang moral dan religi. Pada sekolah umum pelajaran agama hanya 2 jam pelajaran dalam seminggu. Gonta-ganti kurikulum setiap ganti menteri pendidikan, bukannya memberikan porsi lebih pada bidang moral dan religi tapi malah semakin memberatkan biaya pendidikan saja.

3. Kesadaran orang tua akan pentingnnya penanaman nilai religi dan moral untuk anak-anaknya sangat rendah. Para orang tua lebih mengutamakan pendidikan umum, pencapaian gelar akademik setinggi-tingginya, tapi tidak memperdulikan bagaimana moral dan agamanya. Orang tua memberikan penghargaan yang tinggi ketika anaknya mencapai prestasi tertentu bidang akademik tapi ketika anaknya bisa menghapalkan sebagian ayat Quran, misalnya, penghargaan yang diberikan biasa saja atau malah tidak diberikan penghargaan sama sekali

Lalu, tanggungjawabsiapa pendidikan moral dan religi ini ?

1. Orang Tua

Keluarga adalah faktor paling fundamental pada pendidikan moral dan religi. Sebab masa anak-anak adalah masa kritis untuk memasukkan nilai-nilai ke dalam diri anak. Perkembangan otak anak yang luar biasa pada masa ini menyebabkan anak mudah sekali merekam semua hal yang dilihat dan didengarnya. Sehingga ketika orang tua salah atau kurang dalam memberikan pendidikan apa saja termasuk moral dan religi maka ketika anak menjadi manusia dewasa nanti akan memberikan cerminan pendidikan yang salah atau kurang itu.

2. Negara

Saat anak memasuki usia sekolah ia akan mendapatkan tambahan nilai-nilai dalam dirinya melalaui pendidikan formal yang ia ikuti. Paling tidak anak akan mendapat tambahan nilai selama setengah hari (6 jam) di sekolahnya . Enam jam di sekolah termasuk waktu yang efektif untuk membentuk jiwa anak. Karena selain ia mendapat pendidikan oleh guru-gurunya secara langsung, ia juga mendapatkan asupan nilai-nilai dari teman-temannya. Kenyataannya sekarang ini kurikulum pendidikan yang ada tidak memberikan porsi yang seimbang untuk pendidikan

Rendahnya moralitas dan tingkat religiusitas akibat kurangnya pendidikan dua hal itu oleh keluarga maupun oleh pemerintah menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang korup, rendah akhlak, tidak mengenal Tuhannya dan menjadikan agama sebagai identitas formal saja.

Mari kita intropeksi diri kita sendiri, sejauh mana tingkat moral dan religiusitas kita ? Akankah anak-anak dan generasi yang akan datang mewarisi hal yang sama atau harus lebih baik dari diri kita. Mari kita mulai perubahan dan perbaikkan moral dan religi dari diri kita sendiri.

 

Updated: April 16, 2008 — 8:03 am