Sekolah Kehidupan

sekolah kehidupan Kita pernah merasakan bangku sekolah bukan ? Di sekolah kita mendapat banyak pelajaran dari para guru. Bermanfaatkah pelajaran tersebut ? Pastilah banyak sekali manfaatnya bagi kehidupan keseharian kita, walapun kita tidak berada di lingkungan kerja. Kalau kita telah mengenyam pendidikan S1 (sarjana) berarti paling tidak kita telah bersekolah/mengenyam pendidikan formal selama 17 tahun (6 th SD, 3 th SMP, 3 th SMA, 5 th PT). Cukup lama juga ya kita sekolah ? Dan berapa besar biaya yang telah kita keluarkan untuk semua sekolah formal itu ? Ada yang bisa mengakumulasikan ??

Sekolah formal yang telah sekian lama kita lalui dan sekian besar dana yang kita keluarkan sebenarnya masih belum apa-apa. Masih ada jenis sekolah yang membutuhkan lebih banyak waktu dan lebih besar biaya. Sekolah itu adalah SEKOLAH KEHIDUPAN. Pelajaran yang kita terima dalam Sekolah Kehidupan ini juga bisa tak terbatas, waktu/jam sekolahnya pun tak terbatas, bisa siang, malam, dan tak mengenal hari libur. Dan biayanya pun bisa tak terbatas pula. Siapa guru dari sekolah ini ? Guru secara tidak langsung adalah Allah Tuhan kita, sedangkan guru secara langsung adalah segala sesuatu di sekitar kita, baik berupa benda hidup, benda mati, maupun berupa peristiwa kehidupan. Memang sangat disayangkan banyak dari sebagian kita yang belum bisa mengambil pelajaran, atau tidak merasa diberi pelajaran, dari apa yang ada di sekitar kita. Sebagai contohnya, ketika kita mengalami sakit, kemudian masuk rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari di sana. Sebaian orang yang tidak mau belajar akan menganggap sakit ini sebagai siksaan, pemborosan uang, pemborosan waktu, dan hal negatif lain yang berkategori buruk sangka. Padahal jika kita mau merenung dan berpikir sejenak maka kita akan mendapatkan begitu banyak pelajaran dari sakit ini. Pelajarannya antara lain :

  • Pelajaran Kesabaran

Lahir, hidup dan mati adalah sunatullah yang akan dialami semua mahluk hidup. Tidak ada manusia yang selalu kuat, selalu sehat dan hidup terus. Kehidupan juga selalu berpasang-pasangan, ada hidup ada mati, ada sehat ada sakit, ada kaya ada miskin. Sehingga sangat wajar suatu saat kita menderita sakit. Kita tidak usah menyalahkan Tuhan, tidak usah berburuk sangka dengan sakit ini. Keluhan kita terhadap sakit ini tidak akan menjadikan kita sehat seketika. Bahkan keluhan ini bisa jadi menambah sakit menjadi parah karena kita bertabah stress. Kita juga tidak perlu mengeluh dengan biaya pengobata yang harus dikeluarkan, sebab rejeki itu sudah diatur semua oleh Allah. Tidak akan meleset jika memang rejeki itu menjadi bagian kita. Tidak akan meleset ke orang lain. Percaya deh. Jadi lebih baik bersabar, tetap beruasaha untuk kesembuhan dan berdoa untuk menhgadapi sakit.

  • Pelajaran Bersyukur

Saat kita di rumah sakit kita akan melihat beragam manusia dengan berbagai macam penyakit yang dideritanya. Dari yang paling ringan sampai yang sudah sangat parah, bahakan sampai ada yang meninggal. Lihat di kanan kiri kita, pasti ada yang lebih parah dari sakit kita. Ada yang lebih banyak mengeluarkan biaya pengobatan, ada yang lebih lama penderitaannya. Jadi, sudah sangat pantas kita untuk bersyukur kepada Allah

  • Pelajaran Berempati

Sakit yang kita derita akan menjadikan orang-orang terdekat kita lebih sibuk dari biasanya. Misalnya, istri atau orang tua kita, pasti akan memberikan perhatian ekstra kepada kita yang sakit. Teman-teman kita juga berbondong-bondong menjenguk kita dan membawakan kita makanan. So, bagaimana sikap kita saat kita sehat dan orang terdekat kita sakit ? Seharusnyalah kita bersikap yang sama. Empati yang lain adalah terhadap sesama penderita sakit. Biasanya orang-orang yang mempunyai keadaan yang sama akan lebih mudah saling mengenal, lebih mudah saling memberi perhatian dll.

Minimal tiga pelajaran itulah yang dapat kita peroleh dari sekolah kehidupan episode SAKIT. Dan episode-episode kehidupan yang lain harus bisa kita ambil pelajarannya. Selamat berpikir dan merenung

Save

Updated: March 2, 2017 — 4:11 pm